Resensi Novel: Bidadari Bermata Bening

Posted on

Well, I haven’t posted anything since early last year. I love reading novel, especially by Kang Abik. When I read his novel I always found myself, I got my mind right, and my soul was refreshed. Then, I am going to share you guys my opinion one of his novels and spill out the story.

Hasil gambar untuk bidadari bermata bening

Judul : Bidadari Bermata Bening
Pengarang : Habiburrahman El Shirazy (Kang Abik)
Penerbit : Republika
Tahun Terbit : 2017
Tebal : IV+337 halaman

Buku ini pas banget dibaca saat sedang bulan syawal seperti sekarang. Guess what? Plot penyelesaian konflik dalam novel ini terjadi di bulan syawal. Bagi yang suka baca novel Kang Abik pasti hafal dengan karakteristik tema novel yang beliau angkat. Intinya adalah perjalanan dalam menjaga dan menata hati dalam meraih takdir cinta. Bagaimana sebagai umat muslim dalam menyikapi dan memperjuangkan takdir tentang pasangan hidup yang sudah dituliskan di lauhul mahfudz. Peristiwa bersatunya kembali dua insan yang telah dituliskan Allah itu terjadi di bulan syawal. Betapa bapernya?! :p

Namanya adalah Ayna Mardeya, seorang santriwati di salah satu pesantren tua di Jawa Tengah. Dia telah yatim semenjak lahir, sementara ibunya dulu adalah TKW di Yordania. Ibunya kembali ke Indonesia saat dia dalam kandungan dan ia lahir di Indonesia. Kembali ke tanah air tanpa suami menyulut prasangka-prasangka bagi orang lain yang tidak suka pada ia dan ibunya. Dia diilustrasikan sebagai santriwati yang paling cantik diantara semua santriwati di pesantren dan memiliki mata yang bening menyejukkan. Sejatinya dia adalah anak yang cerdas, hanya saja keterpaksaannya untuk menjadi khadimah di pesantren sehingga dapat meringankan beban ibunya menyebabkan nilainya turun. Akan tetapi, dia bisa membuktikan kecerdasannya dengan menjadi peraih nilai UN IPS-SMA terbaik. Tak hanya itu, dia pun digambarkan memiliki budi pekerti yang baik, pekerja keras, suka melayani, dan sholehah. Diceritakan dia beberapa kali mencuri perhatian Pak Kiai dan Bu Nyai. Salah satunya adalah ketika ia menemani belajar cucu mereka dan menjelaskan peristiwa terbentuknya alam semesta dan rotasi bumi yang dikaitkan dengan konsep ketauhidan. Big bang, yang membenturkan dua benda itu adalah Allah dan rotasi bukan berarti bumi berputar pada porosnya, tetapi bumi diputar oleh Allah pada porosnya.

Setelah lulus Aliyah, Ayna bimbang untuk melanjutkan kuliah ataukah tetap belajar di pesantren sambal membantu Bu Nyai. Dia sempat ditawari untuk kuliah tanpa tes di UNY tapi tetap pingin belajar agama. Dia pun sempat akan dinikahi oleh Kiai duda di Yogyakarta yang mengasuh sebuah pesantren mahasiswa di sana. Dia setuju tapi, Pakde dan Budenya, keluarga sat-satunya yang ia miliki, tidak memberikan izin, meskipun mereka bukan termasuk walinya, ibu Ayna sempat berwasiat untuk menjadikan mereka layaknya Bapak dan Ibunya sendiri. Pakde dan Budenya sendiri punya kesan yang buruk di mata Ayna. Dan benar, bahwa akhirnya dia dijodohkan dengan salah satu anggota DPRD Purwodadi yang juga pebisnis sukses. Terpaksa menikahinya, Ayna bak Shinta yang ditawan oleh Rahwana dan sangat kuat dalam menjaga kesuciannya.

Diam-diam, putra bungsu Bu Nyai, Afif, yang hafal Al Qur’an dan salah satu kitab Imam Malik, menyukai Ayna. Dia sempat mengutarakan keinginan untuk menikahi Ayna melalui orang tuanya tetapi sudah terlambat. Saat itu Ayna sudah menikah. Saat itu lah babak, Shinta, Rahwana, dan Rama dimulai sampai akhirnya Shinta yang masih suci bersatu kembali dengan Rama.

Seperti halnya novel-novel Kang Abik yang lain, novel ini kaya akan hikmah dan akhlak sehari-hari yang bisa dicontoh. Sekali lagi, kita juga akan lebih memahami dan memiliki bayangan tentang bagaimana Allah mengatur jodoh diantara hambaNya. Latar cerita kehidupan pesantren juga memberikan kita gambaran akan muatan lokal dan keluhurannya, serta jauh dari kesan kumuh dan tertinggal. Terakhir, kedua tokoh utama Afif dan Ayna mewujudkan mimpi mereka berdua dengan bersama-sama kuliah di Amman, Yordani. Kang Abik mengutarakan pesannya dengan meminjam sosok Ibu angkat Ayna di Bogor yang juga mentor bisnis Ayna. Dia mendukung Ayna untuk belajar di luar negeri bersama sang suami karena itu akan memberikan kenangan tersendiri seperti yang pernah ia rasakan bersama suaminya.

Diantara kelebihan-kelebihan tersebut, ada juga beberapa kekurangan kecil menurut saya. Misalnya masih ada salah ketik dan tanda baca yang kurang tepat sehingga agak membingungkan. Ditambah lagi subbab yang diberi judul bagian satu, bagian dua, dan seterusnya, menurut saya ini kurang menarik dan representatif. Umumnya, ketika membaca buku orang akan melihat daftar isi terlebih dahulu dan mulai menerka-nerka seperti apa jalan ceritanya. Pembaca biasanya juga akan mencoba kembali membuka halaman-halaman yang telah dibaca untuk memperhatikan lebih detil bagian cerita yang menarik atau ternyata menjadi benang yang merajut utuh keseluruhan kisah.

Despite the negative sides, I would still recommend this novel. I got many things that can be learned than the minor mistakes that I found. I could finish it in six hours straight. Therefore, it might ignite your curiosity as well. Secara personal, saya lebih suka dengan novel seperti ini, dimana kita bisa membayangkan perwujudan cinta secara lebih dewasa, sesuai norma, dan dibenarkan agama. Jika melihat begitu banyaknya novel-novel cinta, remaja, dan metropop, there should be more authors writing this kind of genre.

-IAP-

Mimpi Itu…

Quote Posted on Updated on

“Kita berkembang karena memiliki impian-impian. Semua tokoh besar adalah pemimpi. Mereka melihat banyak hal dalam kabut tipis di musim semi, atau cahaya merah menyala di malam panjang musing dingin. Sebagian membiarkan impian-impian itu mati, sementara sebagian yang lan memlihara dan menjaganya; tetap memelihara impian saat kegelapan menyerang dan membawanya menuju sinar matahari serta cahaya yang selalu hadir bagi setiaporang yang sungguh-sungguh berharap agar impian-impian mereka menjadi nyata.”

Woodrow Wilson

—————-

Saya sering bertanya, “Apakah kita yang membentuk impian ataukah impian yang justru membentuk kita?” Kesimpulan saya adalah dua-duanya sama-sama benar.

John C. Maxwell

—————-

Pemimpin yang baik memiliki impian. Pemimpin yang hebat menceritakan impiannya kepada orang yang dapat membantu mewujudkannya. Seperti yang dinasehatkan oleh Florence Littauer, kita harus

Dare to dream (berani memiliki impian)

Berhasrat untuk melakukan hal yang lebih besar dari diri Anda

Prepare the dream (persiapkan diri Anda)

Kerjakan bagi Anda; harus siap ketika kesempatan itu datang.

Wear the dream (kejar impian Anda)

Wujudkan

Share the dream (ceritakan impian Anda)

Libatkan orang lain dalam impian Anda agar impian Anda menhadi lebih besar dari yang Anda harapkan.

Florence Littauer

Majelis Jejak Nabi 15.01.16

Posted on Updated on

@Masjid Al Falah Sby by Ust Salim A. Fillah

IMG_20160115_205801

Pembahasan kali ini adalah kisah Rasulullah menjelang perang Badar. Peristiwa ini berkaitan erat dengan citra Muslim, penganut Rasulullah yang belakangan ini ditampakkan anarki dan suka membunuh oleh media-media pada umumnya. Baru saja kemarin, kala majelis itu diadakan, terjadi peristiwa pengeboman di Jakarta dan melalui media online, ISIS mengaku menjadi dalang dibaliknya. Maka pemahaman tentang perang Badar dan peristiwa pemboman ini hendaknya kita pahami dengan proporsional.

Seperti biasa, Ustadz Salim selalu menyampaikan sirah dari sisi yang luas, berbeda, dan seperti hal baru yang melintas dalam memori kita. Izinkan saya untuk sedikit mereview apa yg telah bliau sampaikan sejauh saya memahami dan menangkap pembahasan tersebut. Manusia adalah tempat lupa, maka adanya kesalahan adalah niscaya. Mohon saling mengingatkan.

Abdullah bin Jahsy mendengar kabar bahwa rumahnya dijarah, barang-barangnya diambil, rumahnya dihancurkan, dan dibakar. Peristiwa ini dia adukan kepada Rasulullah. Rasulullah membalas, “Tidakkah engkau ridho jika Allah dan Rasulnya menjadi pengganti atas harta bendamu?” Dan Jahsy menjawab dengan lirih, “Aku ridho ya Rasulullah.”.

Tanpa sepengetahuan Rasulullah Jahsy berniat menghalau kafilah yg membawa harta bendanya. Dia menanyakan kepada rombongannya bahwa apakah telah selesai bulan haram dan masuk bulan yang dihalalkan untuk berperang. Kala itu bulan haram belum menjadi salah satu syariat Islam. Didapatkannya jawaban iya dan rombongan Abdullah bin Jahsy berangkat. Terjadilah pertumpahan darah, di pihak kafir Quraisy ada yang meninggal.

Hal ini menjadi catatan bagi kaum Quraisy. Muslim yang dicitrakan jujur dan menjunjung tinggi adab tercoreng namanya. “Hai Muhammad, beginilah engkau mendidik kaummu?” Dan Jahsy dihukum tidak boleh keluar rumah sampai Rasulullah perintahkan. Beginilah akhlak Rasulullah, sang suri tauladan, yang beliau juga menjunjung tinggi aturan umum yang menjadi pedoman kaum Arab, yakni untuk tidak menumpahkan darahdi bulan-bulan haram. Meskipun akhirnya bulan haram ini menjadi syariat Islam, di sisi lain Rasulullah juga menghormati arutan bangsa Arab selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Berkaitan dengan ini, Allah pun berfirman agar kita tidak mencela sesembahan agama lain. Di luar beberapa nabi yang menjadi sembahan mereka, Latta dan Uzza juga bebas dari celaan kaum Muslim. Allah tidak ingin akhirnya mereka membalas akan menghinakan Allah dengan ilmu yang dangkal. Ketika Ibrahim menghancurkan berhala dan dengan kecerdasannya membuat makar, apa yang terjadi selanjutnya? Makin banyakkah pengikutnya atau murka? Ya, mereka murka dan Ibrahim pergi merantau.

Sejarah juga mencatat Rasulullah tidak pernah menghancurkan, mencuil, atau bahkan menggores berhala. Beliau sholat di Masjidil Haram sementara 300an berhala berdiri kokoh di sekelilingnya. Bayangkan, bagaimana para sahabat tidak geregetan. Tapi, mereka bersabar dan sami’na wa atho’na. Barulah ketika Fathu Mekkah, seorang Quraisy yang kemarin masih mengelus-elus, memberikan minyak wangi, dan berdoa meminta pada berhala-berhala itu yang menghancur leburkan semua patung itu. Kisah Ibrahim (Nabi dan Rasul serta hamba shalih yang diabadikan dalam al Qur’an) adalah ibrah bagi kita sementara suri tauladan kita adalah Rasulullah Muhammad SAW.

Kaitannya dengan peristiwa bom di Jakarta, Ustadz Salim menambahkan dengan kisah seorang pemuda yang meminta izin kepada seorang ulama di Mesir. Saat itu di Kairo terdapat pusat maksiat yang besar. Apabila tidak mabuk tidak afdhal, apabila tidak zina tidak afdhal, dan apabila tidak bermaksiat tidak afdhal. Pemuda tadi meminta izin untuk mengebom tempat tersebut. Sang ulama menjawab, “Setelah kamu bom mereka apa yang terjadi? Mereka akan masuk surga atau neraka?”. “Neraka syaikh, karena mereka meninggal ketika bermaksiat.”. “Dengan membuat mereka lebih cepat masuk neraka, engkau menolong siapa? Setan atau Allah? Bukankah setan sangat ingin semakin banyak orang yang masuk neraka?” Sang pemuda pun terdiam.

Kembali pada peristiwa Jahsy dan aduan kaum Quraisy, Allah berfirman dalam surat Al Baqarah, “Al fitnatu akbaru minal qotli,” fitnah itu lebih besar dosanya dari pembunuhan. Fitnah yang dimaksud dalam surat ini berbeda dengan arti fitnah dalam Bahasa Indonesia. Bukan berita dusta, melainkan fitnah adalah segala upaya dari iming-iming menyenangkan hingga intimidasi menyusahkan yang bertujuan membuat kembali pada kekufuran setelah beriman. Legal standing kaum Quraisy lemah di mata Allah. Bagi Allah, perbuatan mereka yang menghalangi manusia dari keimanan, berupaya agar orang yang telah bersyahadat kembali pada kesesatan, dan memusuhi dakwah lebih besar dosanya dari pada membunuh.

Pada akhirnya, dakwah hendaknya disampaikan dengan tanpa mengorbankan kemuliaan dakwah. Sebaiknya kita berhati-hati dan menginstrospeksi diri, aduhai celaka jika sampai tanpa sadar ternyata perbuatan kita malah menolong setan. Na’udzubillah.

Wallahu’alam bish shawab.

16 Januari 2016, dalam perjalanan menuju Jakarta – Kereta Gaya Baru Malam

[Goresan Tinta Lebaran] Antara Islam dan Ilmu Pengetahuan

Posted on

Pak Ton

Saat itu di momen lebaran, kami Al Mahi Tauchid (kiri), Kurniyadi Muttaqin (yang mengambil gambar), dan saya (Ilham Anugrah Permata, kanan) berkunjung ke rumah Bapak Tontowi Ismail (tengah). Bapak Tontowi Ismail adalah Ketua Tim Pembina Kerohanian Islam (TPKI) di ITS sebelum Pak Triwikantoro, dan Bapak Darmaji (Ketua TPKI sekarang). Beliau juga adalah dosen di jurusan Teknik Kimia.

Sebelumnya, kami menyusuri rumah beberapa dosen yang juga alumni JMMI. Pak Muhtasor (Guru Besar Teknik Kelautan), Pak Aris (Dosen Teknik Kelautan, juga anggota TPKI), dan Pak Yoyok (Dosen Teknik Kelautan, juga Dewan Syariah JMMI), semuanya ternyata sudah berangkat mudik, hehe. Alhamdulillah di destinasi ke empat ini kami pastikan yang kami tuju ada di rumah, karena sebelumnya saya menyapa saat Sholat Ied di Parkiran Mobil Manarul Ilmi.

Usianya tak muda lagi memang, 67 tahun lalu beliau dilahirkan, tapi jangan salah sangka, semangatnya dalam mendakwahkan Islam tak kalah dengan kita yang masih muda. Beliau Sejak kecil beliau dibesarkan di Pati, Jawa Tengah. Beliau bercerita, bahwa sejak SD beliau sudah aktif mengikuti banyak kegiatan. Terutama di bidang olahraga beliau sangat menonjol, bahkan hingga pernah menjuarai lomba lari tingkat Kabupaten. Selain itu, beliau juga pernah menjadi pemain “honorer” perusahaan rokok yang ada di dekat Pati. Beliau menuturkan, “Sekali permainan, kalau dikonversi ke nilai uang sekarang, sama dengan satu juta. Itu saya pakai mentraktir teman-teman, bukan cuma tiga orang, satu rombongan pemian lah. Tempatnya sekala zaman sekarang ya sudah restoran, bukan makanan pinggir-pinggir jalan, dan masih sisa.”

Di SMP beliau menjadi Wakil Ketua OSIS dan Ketua Koperasi kala itu. Di jenjang SMA pun beliau aktif mengikuti banyak kegiatan, salah satunya “pemain honorer” tadi, sekaligus menjadi pemain Persatuan Sepak Bola Kudus. Jangan salah lagi, prestasi dan keaktifan beliau di luar kelas berbanding lurus dengan prestasinya dalam kelas. Sejak SD hingga SMA beliau menjadi jajaran atas yang menduduki predikat juara kelas.

Saingan terberat beliau kala itu, seorang keturunan etnis Tionghoa yang mengalahkan beliau hanya dengan selisih satu angka. Total nilai beliau 212 sementara temannya 213. “Yang dilihat kan yang nomor satu,” kata beliau. Ini adalah persoalan bagaimana kita sebagai seorang Muslim mampu menjadi pribadi yang unggul.

Hal ini sejalan dengan khutbah Sholat Ied di halaman parkir mobil Masjid Manarul Ilmi. Bapak Bintoro (Dosen Jurusan Fisika yang baru saja menamatkan kuliah di Jerman) menyampaikan bagaimana antara Islam dan Ilmu Pengetahuan diterapkan beriringan. Bagaimana harusnya umat Islam juga menguasai ilmu dunia. Sesuai dengan sabda Rasulullah

“Barangsiapa menginginkan kebahagiaan dunia, wajib baginya mempunyai ilmu, barang siapa menginginkan kebahagiaan akhirat wajib baginya mempunyai ilmu, barangsiapa menginginkan kebahagiaan keduanya wajib baginya mempunyai ilmu” (H.R. At Thabrani)

“Saya baru ingat Mas, apa yang membuat saya waktu itu dengan banyaknya aktifitas dan berprestasi di kelas. Setiap sebelum berangkat sekolah, saya selalu menyempatkan membaca dua ayat Al Qur’an. Dua ayat saja. Meskipun saat itu sedang kesusu,” beliau bersemangat menceritakan. “Lah kalau sekarang,” beliau menambahkan, “Ditambahi Mas, waktu di kelas, sampean kan mendengarkan, melihat, mecatat, otak juga berpikir. Semua indra lah Mas bekerja. Tapi ada satu yang tidak… Yaitu hati. Gunakan itu Mas, isi hati dengan terus berdzikir, alhamdulillah, subhanallah, laailaahaillallah. Atau sambil lirih-lirih juga ndak papa. Ojo banter-banter tapi, nganggau tanggane! Hehe. Toh iki juka bukan bid’ah kan?” beliau tersenyum.

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (Al A’raaf 205)

Lah, di surat Al A’raf tersebut Allah menegaskan supaya kita jangan sampai termasuk orang-orang yang lalai. Yakni lalai dalam mengingat Allah. Setiap saat hendaknya kita senantiasa berusaha untuk mengingatNya.

Teringat peristiwa ketika Rasulullah bersama para sahabat dalam sebuah majelis. Tiba-tiba datang seseorang yang tampan dengan pakaian sebar putih, duduk tepat dihadapan Rasulullah, menempelkan lututnya dengan lutut Rasulullah, serta meletakkan tangannya di paha Rasulullah. Setelah selesai percakapan dengannya, Rasulullah menjelaskan ia adalah malaikat Jibril yang mengajarkan kepada para sahabat tentang rukun Islam, Iman, dan Ihsan. Ihsan ini adalah merasa bahwa Allah melihat kita atau yakin bahwasanya Allah melihat kita. Bagaimana kita bisa merasa dilihat Allah atau yakin Allah melihat kita? Ya benar, dengan senantiasa berdzikir mengingatnya .

“Saya sudah sampai Amerika Mas,” beliau lanjut bercerita. “Wayahe pas sumpek tugas dan ngunuiku…, langsung jaluk ae aku Mas. Langsung dungo!”

Sejak beliau di perguruan tinggi. Beliau termasuk jama’ah Masjid Salman yang pertama. Ketika itu yang sholat di sana masih tiga orang saja. Satu beliau, dua lagi perempuan. Satu yang beliau ingat, mahasiswi yang lebih semangat darinya, asalnya dari Sumatera Barat, orang Padang. “Ayo Ton sholat nang Salman,” kenang beliau ketika diajak sholat. Kala itu Salman masih belum sebesar sekarang, ukurannya masih sebesar kamar kos. Sholat Jumat pun belum ada. Baru ketika tahun-tahun akhir kuliah beliau, diadakan sholat Jumat di aula barat ITB.

Beliau bercerita lagi, “Pas iku Mas, saya in the kost di rumah mertua Pak Habibie, Ibu dari Bu Ainun Habibie. Ada itu di filmnya. Ya di rumah yang di film itu.” Ketika itu seisi rumah keluarga Habibie ataupun Bu Ainun tidak ada yang sholat. Seisi kos hanya setengahnya yang sholat. Bahkan ketika beliau mengaji, digedor kamarnya oleh Bapak Bu Ainun. Dipinjamlah Al Qur’an Pak Tontowi dan tidak dikembalikan selama tiga bulan. Karena sungkan menagih, beliau bayak membaca Al Qur’an di Masjid Salman. Beberapa bulan setelah itu, alhamdulillah, atas izin Allah Bapak Ibu Ainun Habibie mulai rajin sholat, begitupula keluarga yang lain.

Bahkan, saking parahnya masa itu, dibanding sekarang, saudara termuda dari Bu Ainun menikah dengan hostess (pelayan night club). Tapi sekarang, alhamdulillah atas izin Allah, dia dan istrinya menjadi salah seorang yang sangat taat dalam beragama. Dia memiliki usaha memasok jok kursi untuk perusahaan Astra. Jadi, kuri mobil Honda, Toyota, dan sebaginya yang dirakit oleh Astra disuplai olehnya. Tidak sungkan-sungkan dia membantu sesama Muslim dan mendirikan yayasan sosial yang memperhatikan umat Islam. Ketika bertemu dengan Pak Tontowi, “Itu kan masa lalu Ton, hehe.”

Saya memabayangkan bagaimana melalui Pak Tontowi sekeluarga Bu Ainun mendapatkan hidayah, hebat banget, masyaAllah. Dakwah kita gimana ya? Hehe. Ketika dengan lingkungan yang tidak kondusif dari sisi Islam kita masih sering terbawa, bukan malah kokoh dan menjadi cahaya. Astaghfirullah.

Kembali ke bahasan antara Islam dan Ilmu Pengetahuan tadi. Bagian dari khutbah yang disampaikan Pak Bintoro, beliau menyampaikan sebuah penggalan ayat yang artinya,

“Maka bukan kamu yang membunuh mereka, tetapi Allah yang membunuh mereka; bukan engkau yang melempar, tetapi Allah lah yang melempar…” (Al Anfal 17)

Sehingga ketika kesulitan dalam belajar, ketika kesulitan dalam memahami pelajaran, mata kuliah, atau praktikum, ingatlah. Allah yang Maha Pintar, Allah lah yang Maha Berilmu, Allah yang Maha Mengetahui. Sejatinya bukan kita yang pintar, tapi Allah yang pintar. Yakinlah, niscaya Allah lah yang akan menjadikan kita pintar ^_^

Benarlah kata pepatah, pengalaman adalah the best teacher in the world. Tapi tidak harus kita langsung yang mengalaminya, cukup mengambil pengalaman dari mereka yang telah merasakan asam manisnya perjuangan dan kita melanjutkan dan memperjuangkannya lebih besar.

“Jangan pernah berpikir bahwa belajar adalah suatu beban atau keharusan. Ini mungkin memerlkan kedisiplinan, tapi ini adalah pengalaman yang membuat kamu ‘hidup’ dan menyenangkan.” Donal Trump.

“Iqra’. Iqra’ bismi rabbikal ladzi kholaq.” (Al Alaq 1-2)

Selamat belajar…

Selamat bersenang-senang

Untukmu Kader Dakwah (part 1)

Posted on Updated on

1. Al Fahmu

Al Fahmu

Yang kami maksud dengan al fahmu adalah

Anda yakin bahwa fikrah (pandangan) kami adalah fikrah islamiyah yang solid dan tangguh, serta Anda memahami Islam seperti apa yang kami pahami dalam kerangka duapuluh landasan (al ushuulal’isyiruun).

(Hasan Al Banna)

Tak ada perintah memohon tambahan seperti perintah meminta tambahan ilmu. Bahkan perintah itu diarahkan pada Rasulullah SAW.Dan katakanlah :Ya Rabbi, tambahkan daku ilmu (QS 20:114). Bagi Ashabul Kahfi, sesudah iman, tambahan ni’mat berupa Huda (petunjuk) itu pada hakikatnya juga ilmu.

Kecuali efek kesombongan yang sebenarnya bukan anak kakndung ilmu, seluruh dampak ilmu adalah kebajikan. Bukan pun ketika seseorang terlanjur salah jalan, ilmu mengambil peran pelurus. Ia selalu jujur, asal si empunya mau jujur. “Lewat beberapa masa, aku menuntut ilmu dengan motivasi yang salah, tetapi sang ilmu tak pernah mau dituntut kecuali karena Allah,” kata Al Ghazali.

Tentu saja seseorang tidak harus mengumpulkan ilmu sebagai kolektor tanpa komitmen amal, karena hal seperti ini dapat dilakukan oleh hard disc, diskette, pita perekam atau mata pensil. Bagaimana ilmu menjadi serangkaian informasi yang mengantar penuntunnya kepada kearifan, itulah soal besar yang menjadi batu ujian para ulama. “Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hambaNya yaitu ulama” (QS 35:28).

Dengan melihat hubungan dan kedudukan ilmu, nyatalah bahwa yang dimaksud dengan ilmu dan kemuliaannya itulah ilmunafi’ (ilmu yang bermanfaat). Karenaitulah, maka seluruh kata ilmu (dalam Al Qur’an dan hadist) maksudnya adalah ilmunafi’, menurut Ibnu Athaillah. Selebihnya ia menjadi beban tanggungjawab dan penyesalan, karena berhenti pada jidal (debat), mubahah (kebanggaan), dan alat menarik keuntungan dunia.

Ilmu selalu membuat si empunya semakin rendah hati, sensitif, dan sungguh-sungguh.

Resume Buku “Yang Berjatuhan di Jalan Dakwah”

Posted on Updated on

Image

Judul : Yang Berjatuhan di Jalan Dakwah
Pengarang : Fathi Yakan
Penerjemah : Khozin Abu Faqih, Lc
Penerbit : Al – I’tishom Cahaya Umat (Cetakan Kesembilan, April 2007)
Pengantar  : Abu Ridho
Oleh  : Ilham Anugrah Permata (2311100077 KINI Teknik Kimia FTI-ITS)

BAGIAN PERTAMA
FENOMENA BERJATUHAN DI MASA KENABIAN

  • Perang Tabuk tidak diikuti oleh beberapa orang munafiq dan 3 orang muslimin (Ka’ab bin Malik, Murarah bin Rabi’, dan Hilal bin Umayyah) sehingga Rasulullah membiarkan dalih dari orang-orang munafiq dan menghukum 3 orang muslimin tadi dengan melarang para sahabat berbicara dengan mereka.
  • Ka’ab bin Malik tidak mengikuti Perang Tabuk tanpa alasan (udzur) dan berkata jujur kepada Rasulullah sementara munafiq yang lain beralasan dengan sumpah-sumpah, sehingga Ka’ab beserta dua muslimin lainnya dihukum oleh Rasulullah dan ditangguhkan taubatnya hingga terasa sempit bumi bagi mereka dan jiwa mereka pun telah sempit serta mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari siksa Allah kecuali kepada-Nya.
  • Saat Rasulullah akan berangkat ke Mekkah, Hathib bin Abi Balta’ah mengirimkan sepucuk surat kepada orang-orang Quraisy untuk memberitahukan hal tersebut melalui seorang wanita. Peristiwa ina dianggap sebagai pembocoran rahasia dan pengkhianatan besar, sehingga muncul sikap antipasti dari massa dan sikap pemaaf dari Rasulullah.
  • Sebagian orang-orang munafiq berpura-pura menampakkan keislamannya, bermaksud memecah belah barisan kaum muslimin dengan membangun masjid yang nampak penuh kasih sayang, padahal hakikatnya adalah tipu muslihat, maka Rasulullah menginstruksikan agar Masjid Dlirar tersebut dirobohkan.
  • Para pembohong dan penghasut dari kalangan munafiqin berusaha mencemarkan kehormatan Rasulullah dengan menyebarkan fitnahsaat melihat ‘Aisyah r.a. datang berdua bersama Ibnu Mu’athal. Rasulullah berpaling dari ‘Aisyah karenanya dan Al Qur’an memberikan bantahan atas gossip tersebut. Sang pembawa berita gosip Hassan bi Tsabit berserta shabatnya, ‘Abdullah bin Ubay beserta rekan-rekannya, ikut andil pula Hamnah binti Jahsy (saudari istri Rasulullah, Zainab binti Jahsy) dan Misthah (Bibi Abu Bakar). Abu Bakar berniat menghentikan nafkah kepada Misthah, tapi Allah melarang menghentikan nafkah kepada kerabat dan memerintahkan untuk memaafkannya, karena Allah Maha Pengampun.
  • Rasulullah mengutus Abu Lubabah bin Abdul Mundzir untuk menemui tokoh Bani Quraidloh setelah mereka melakukan pengkhianatan, tetapi Abu Lubabah melakukan pengkhianatan kepada Rasulullah, marah terhadap diri sendiri, dan menyesal, hingga mengikat dirinya pada salah satu tiang masjid sebagai tebusan hinga enam malam dan taubatnya diterima oleh Allah.
  • Fenomena berguguran di masa permulaan Islam sangat terbatas dan kebanyakan berakhir dengan kesadaran pelakunya untuk bertaubat.
  • Hal ini menggambarkan kejernihan hati , kebersihan tujuan, kemurnian pembawaan, dan keinginan kuat untuk menjaga kesatuan barisan dan komitmen pada jama’ah serta sikap seluruh anggota jama’ah dalam mengingkari orang-orang yang keluar dari aturan jama’ah.
  • Saat ini medan perjuangan Islam banyak menyaksikan model manusia yang bila berbeda pendapat berubah menjadi buas, kejam, penuh dengki, dan pendendam.
  • Rusaknya sifat amanah, timbulnya ambisi kekuasaan, minimnya kesetiaan, pengingkaran terhadap kebaikan, pergunjingan dan adu domba, kebencian dan iri hati, bangga diri, ekstrem, serta berbagai penyakit yang lain menggerogoti  dan meracuni bangunan Islam yang bermula pada penyimpangan pendidikan dan buruknya kepribadian.
  • At-Thabrani meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah r.a., ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya (Islam) ini agama yang kuridhai untuk diriku, dan tak layak baginya kecuali kedermawanan dan baiknya akhlaq, maka muliakanlah agama ini dengan kedua akhlaq tersebut selama kau masih bersamanya.””

BAGIAN KEDUA
SEBAB-SEBAB TASAQUTH

Pertama
Sebab-sebab yang bersumber dari Pergerakan

1. Lemahnya Aspek Tarbiyah
Aspek tarbiyah atau pendidikan terkadang mendapat posisi yang terbatas jika dibandingkan dengan administrasi organisasi dan politik. Situasi ini mengakibatkan sifat beku dan kering yang selalu menimbulkan ketegangan dan perasaan sensitif. Ia tidak menyadari bahwa kehampaan jiwa dan ruhnya, kemunduran tarbiyahnya serta kerapuhan iman menghantui dalam kehidupannya. Padahal Islam mengharuskan umatnya untuk selalu memperhatikan diri, merasa selalu dipantau oleh Robbnya, menjaga perilakunya, dan menyuburkan keimanannya. Karena itu, manhaj (metode) pembinaan harus selalu dikaji, serta disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi yang dilalui oleh pergerakan. Ikatan individu dengan pergerakan harus dibangun di atas ikatannya dengan Allah dan ajaran Islam. Karena pergerakan hanya sarana, bukan tujuan. Ambisi pribadi dan egoisme haruslah terlebur untuk mencapai tujuan Islam. Termasuk dalam ‘amal, Allah tidak menerima segala ‘amal yang dengannya ia disekutukan (riya’ atau beramal karena Allah bersamaan dengan ingin dipuji orang).

2. Tidak Proporsional dalam Memosisikan Anggota
Pergerakan yang profesional dan matang adalah pergerakan yang mengetahui kemampuan, kecenderungan, dan bakat para anggotanya. Juga, mengenal titik-titik kekuatan dan kelemahan mereka. Serta mampu merencanakan aktivitasnya pada program yang teruji dan terencana dengan skala prioritas.

Lembaga pergerakan harus menentukan langkah sebanding dengan potensi yang dimiliki agar tidak lepas kendali, terkontrol, dan sesuai kapasitasnya. Proses pemilihan posisi yang sesuai bagi anggota harus didasarkan pada studi yang teliti, mendalam, dan jauh dari sifat karbitan, emosional serta ketegasan. Pergerakan harus memulai dengan menentukan marhalah yang dilalui dan memahami hal-hal yang dibutuhkannya. Dan setiap marhalah harus disediakan sumber dayanya.

3. Tidak Memberdayakan Semua Anggota
Aktivitas yang menumpuk pada kelompok tertentu sedangkan kelompok mayoritas lain tidak mendapat tugas, sementara waktu terus berjalan, akal dan hati pun berubah-ubah , anggota pergerakan merasa tidak produktif karena lemahnya ikatan keanggotaan.  Di sisi lain, berbagai daya tarik, kesibukan, dan pesona yang beraneka ragam membayang di depannya, akhirnya, semangat dan motivasi jihad yang ada dalam hatinya melemah, lantas ia menghilang dari pentas dakwah, dan terhanyut dalam arus masyarakat serta kesiasiaan yang ada di dalamnya.

4. Lemahnya Kontrol
Sebagaimana umumnya manusia, anggota pergerankan juga menghadapi situasi sulit dan aneka masalah. Baik masalah kejiwaan, keluarga, ekonomi atau lainnya. Agar mampu mengontrol anggotanya, maka lembaga pergerakan harus menyeimbangkan perluasan daerah dan penambahan anggota dengan penyediaan jaringan kepemimpinan yang (dalam kondisi apapun) mampu menguasai massa, dan menjamin kebutuhan-kebutuhan mereka yang terus berkembang.

Hubungan antar anggota dalam lembaga haruslah sebagaimana sabda Rasulullah, bahwa orang-orang mukmin adalah perumpamaan satu tubuh, apabila salah satu sakit maka timbul simpati dan sakitlah semuanya.

Kontrol dapat dilakukan secara struktural, melalui seluruh jaringan dan dari sisi persaudaraan, melalui individu-individu.

5. Kurang Sigap dalam Menyelesaikan Persoalan
Sebuah masalah terkadang mulanya dipicu oleh persoalan yang kecil dan terbatas.tetapi, bila dibiarkan akan menjadi besar dan menyebabkan munculnya maslah lain. Terkadang suatu masalah hanya membutuhkan tidak lebih dari satu kata, satu keputrusan, satu kunjungan, sekali pertemuan, sekali pemberian maaf sekali teguran, sekali nasehat, sekali bantuan, sekali penjelasan, sekali pengungkapan, atau hal-hal sederhana lainnya. Tapi ketika persoalan itu dibiarkan dan ditangguhkan, maka akan banyak menyedot energi dan waktu.

Ketidaksigapan pergerakan dalam menyelesaikan masallah disebabkan oleh beberapa hal:
– Jajaran pimpinan yang tidak mampu memberikan solusi yang tepat dan cepat
– Rutinitas yang melalui alur struktural yang rumit dalam menyelesaikan masalah
– Luasnya basis massa, minimnya pemimpin, dan kuranya kemampuan pemimpin dalam memenuhi tuntutan

6. Konflik Internal
Sebab-sebab munculnya konflik internal, antara lain :
– Lemahnya pemimpin dalam mengendalikan barisan dan mengatur berbagai urusan
– Adanya tangan-tangan tersembunyi dan kekuatan eksternal yang sengaja mengobarkan fitnah
– Perbedaan watak dan kecenderungan antar anggota yang disebabkan ketidak singkronan antara tarbiyah dan lingkungan
– Persaingan untuk mendapatkan kedudukan atau posisi struktural maupun politis
– Tidak adanya komitmen pada kebajikan, kaidah-kaidah serta prinsip –prinsip pergerakan, ketidaktaatan pada keputusan jajaran pimpinan, dan munculnya sikap-sikap infradi (mengabaikan sistem syara)
– Kosongnya aktivitas dan mandulnya produktivitas, padahal keduanya seharusnya menjadi kesibukan satu-satunya para aktivis dakwah dan penguras tenaga mereka.

6. Pemimpin yang Lemah
Faktor lemahnya pemimpin
– Lemahnya daya nalar dan intelektual
– Lemahnya kemampuan strutural
Sifat-sifat yang harus dimiliki Pemimpin Pergerakan
– Mengenal Dakwah
– Mengenal Diri
– Perhatian yang Utuh
– Teladan yang Baik
– Pandangan yang Tajam
– Kemauan yang Kuat
– Fitrah yang Mengundang Simpati
– Optimisme

Kedua
Sebab-sebab yang Bersumber dari Individu

1. Waktu yang Indisipliner
Ada beberapa orang yang tertarik pada pergerakan dalam situasi tertentu, atau karena suatu sebab tertentu sehingga diantara mereka tak mampu beradaptasi dengan kebijakan pergerakan, serta tidak mampu mendengar dan taat kepadanya. Diantaranya ada dua penyebab:
– Tidak siap memikul beban tugas struktural
– Engan meleburkan diri dalam bangunan jama’ah dan berkeinginan kuat menjaga kepribadiannya

2. Takut Mati dan Miskin
Setan akan menakut-nakuti mengancam, dan memberikan angan-angan kosong mereka kepada pelaku dakwah:
“Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-anagan kosong kepada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka” (An-Nisaa’: 120)

3. Sikap Ekstrem dan Berlebihan
Orang yang membebani diri melebihi kemampuannya, tidak menerima sikap moderat, dan bersikeras untuk berlebih-lebihan dalam segala hal, pasti akan mengalami frustasi kejiwaan dan keimanan. Sesungguhnya, jiwa manusia itu lemah.

Mungkin ia mampu memikul kewajiban di satu waktu, tetapi tidak mempu memikulnya dalam semua waktu. Terkadang secara bertahap ia mampu memikulnya sekaligus. Ini menunjukkan bahwa kemampuan manusia tidaklah sama.

4. Sikap Mempermudah dan Menganggap Enteng
Orang yang mempermudah pelaksanaan hukum Allah swt. Dan menganggap enteng komitmen pada hukum-hukum syari’at, akan merasa termotivasi untuk bersikap longgar dalam suatu msalah pada awalnya, lalu meningkat pada hal-hal besar, hingga setan menguasainya.

Dari Ana ra. Ia berkata, “Sesungguhnya kamu melakukan beberapa amalan (dosa) yang menurut pandangan mata kamu lebih halus daripada rambut, sedang kami pada masa RAsulullah saw. mengannggapnya sebagai hal-hal yang membinasakan.” (HR Bukhari)

5. Ghurur dan Senang Tampil
Orang yang suka tampil, menyombongkan diri, hingga tidak dapat mengenal hakikat dirinya, membutuhkan teguran keras yang dapat membangunkannya sebelum terlambat. Para aktivis dakwah harus memahami, bahwa orang-prang seperti itu tidak layak memikul amanah dakwah. Seorang da’I perlu duduk-duduk bersama dengan jama’ahnya, bersikap tawadlu’, memberi pelayanan, dan lemah lembut terhadap mereka, serta menerima kritik dan nasehat dari mereka.

6. Cemburu Terhadap Orang Lain
Cemburu terhadap orang-orang yang terdepan, terpandang, sukses, dan dikaruniai keahlian yang tidak dimiliki orang lain menjadi hal yang sering dicemburui. Padahal setiap aktivis dakwah harusnya memahami bahwa faktor kecerdasan, pengetahuan, kemampuan menulis dan berceramah yang bertingkat-tingkat, yang membuat para aktivis dakwah berbeda dalam produktivitas, pengaruh, dan interaksi merupakan hal yang lumrah. Hal ini seperti yang dicontohkan melalui kisah Qabil dan Habil.

7. Fitnah Senjata
Berikut adalah berbagai kerancuan yang terkait dengan penggunaan kekuatan, yang masih menjadi perselisihan di kalangan para aktivis :
– Tidak Jelasnya Tujuan Pembentukan Kekuatan
Tujuan pembentukan kekuatan (apapun terbentuknya) adalah agar terealisasinya perubahan Islami, terlaksananya perintah Allah, diterapkannya syariat, dan dimulainya kehidupan Islami.
– Tidak Memenuhi Syarat Penggunaan Kekuatan :

  • Mengoptimalkan penggunaan sarana-sarana lain terlebih dahulu, sehingga penggunaan kekuatan fisik menjadi penyelesaian terakhir
  • Menyerahkan persoalan pada kebijakan imam dan jamaatulmuslimin (Khilafah Islam), bukan pada perorangan atau masyarakat umum
  • Tidak mengundang kerusakan atau fitnah
  • Tidak melanggar kebijakan syariat
  • Disesuaikan dengan skala prioritas
  • Dipersiapkan dengan benar dan matang
  • Tidak gegabah dan reaksioner
  • Tidak menjerumuskan umat Islam pada pertarungan yang tidak seimbang

Ketiga
Sebab-sebab Eksternal

1. Tekanan Tribulasi (Penyiksaan Fisik)
Al-Qur’an menyatakan dengan tegas bahwa tribulasi pasti terjadi dalam kehidupan orang-orang yang beriman (Al Ankabut : 1-3). Ada diantara mereka yang teguh dan  sabar dalam menhadapinya (Ali Imran : 173). Di antara mereka juga ada yang lemah, tidak mampu bertahan, dan akhirnya gugur dan menghilang (Al Ankabut : 10-11). Dan bahwa ujian ini adalah keniscayaan dan tidak dapat dielakkan (Ali Imran : 186)

2. Tekanan Keluarga
Allah telah memperingatkan dalam surat At Taubah : 24 agar kita tetap teguh dan tegar dalam jihad.

3. Tekanan Lingkungan
Faktor yang menyebabkan seseorang kalah dengan lingkungan :
– Dasar pembinaan yang tidak benar
– Komitmen ketika di lingkungannya di dorong rasa malu, taklid, dan ikut-ikutan bukan berdasar kesadaran, kepahaman, dan keimanan
– Di lingkungan kedua ia meninggalkan dunia dakwah dan para aktivisnya lalu kembali ke lingkungan jahiliyah dan bergaul dengan teman-teman yang buruk

4. Tekanan Gerakan Dekstruktif
Keragaman dalam perjuangan Islam tidak dianggap sebagai fenomena sehat, karena dampaknya terhadap perjuangan Islam sangat merugikan. Para pemuda yang masih belia terkadang tidak mampu bertahan menghadapi gempuran propaganda yang mendiskreditkan pergerakan Islam, karena pembinaannya belum sempurna dan keimanannya belum kuat. Ada juga pergerakan-pergerakan yang memfokuskan perhatian pada bidang-bidang tertentuhingga terkesan dialah yang paling mampu dalam bidang tersebut, tanpa memperhatikan kelemahan dan kebangkrutannya di bidang lain.

5. Tekanan dari Figuritas
Hal ini dapat diakibatkan penyakit ujub (bangga diri), ghurur (tertipu), terlalu mencintai diri sendiri, sombong, dan egois.

Rihlah Ma’had Ukhuwah Islamiyah

Image Posted on Updated on

Rihlah Ma'had Ukhuwah Islamiyah

Kawah Idjen
24-26 Desember 2013